Kibar Merah Putih di Halaman Balai Kota Ketika Mantan Napiter Merajut Kembalinya Rasa Cinta Tanah Air Indonesia

admin
IMG 20260817 WA0000 copy 512x512

SUARARONGGOLAWE.COM SURABAYA — Udara pagi di Kota Perjuangan terasa sedikit berbeda pada Senin, 17 Agustus 2026. Tepat pukul 07.30 WIB, pelataran Balai Kota Surabaya dipenuhi deretan barisan peserta upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.

Di antara jajaran pejabat dinas, tokoh masyarakat, serta elemen pemuda, hadir sebuah rombongan khusus yang menyedot perhatian: 15 mantan narapidana terorisme (napiter) yang kini mantap berikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kehadiran mereka di garis depan perayaan kemerdekaan bukan sekadar formalitas tahunan, melainkan simbol kuat dari perjalanan panjang rekonsiliasi, pemulihan jiwa, dan kembalinya para mantan kombatan ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Sebuah Simpul Kebinekaan yang Kembali Terikat Di antara barisan tersebut, hadir deretan nama yang dahulu sempat mewarnai catatan kelam aksi terorisme di tanah air:
* M. Syaifudin Umar (Abu Fida)
* Hamza Baya
* Achmad Arif Hermansyah
* Arief Syaifudin (Firdaus)
* Agus Imam Hanafi
* Arif Efendi
* Fery
* Anif Solchanudin
* Maulana Yusuf Wibisono
* Edy Soebianto
* Ahmad Zulfikar Al Faroq
* M. Muhaidin (Denny)
* Suyitno
* Priyo
* Basuki Rahmat (Sidoarjo)
Dengan pakaian rapi dan posisi siap tegak, mereka berdiri berdampingan menatap sang saka Merah Putih yang perlahan berkibar mengangkasa. Gestur menghormat bendera yang ditunjukkan bukan lagi formalitas dingin, melainkan bentuk kesadaran baru atas makna kedaulatan dan persatuan.
Kesaksian Priyo: “Upacara Ini Alat Terbaik Merawat Kebinekaan”

Salah satu momen paling menyentuh datang dari Priyo, mantan napiter yang dulu pernah terlibat dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Usai prosesi pengibaran bendera selesai, Priyo membagikan refleksinya mengenai arti keikutsertaannya dalam peringatan HUT RI ke-81 ini.

“Dulu kami berada di seberang, memandang perbedaan dengan rasa curiga. Namun hari ini, berdiri bersama ribuan warga Surabaya di Balai Kota, saya menyadari bahwa upacara bendera seperti ini adalah alat yang sangat efektif dan ampuh untuk merawat kebinekaan,” ungkap Priyo dengan nada haru.
Ia menambahkan bahwa berada di tengah-tengah masyarakat dan merayakan kemerdekaan bersama merupakan bentuk penyembuhan sosial yang nyata. Kebinekaan Indonesia, menurutnya, tidak boleh lagi dipandang sebagai pemisah, melainkan sebagai fondasi utama kekuatan bangsa.

Langkah Nyata Deradikalisasi di Kota Perjuangan Langkah Pemerintah Kota Surabaya bersama instansi terkait dalam melibatkan para eks napiter pada acara kenegaraan resmi merupakan bagian dari program reintegrasi sosial berkelanjutan. Pendekatan humanis dan pangkulan terbuka dari masyarakat dinilai menjadi kunci utama agar para eks napiter tidak kembali terperosok ke dalam jejaring radikalisme.

Pengibaran Merah Putih di HUT RI ke-81 ini menjadi bukti konkret bahwa pintu pembinaan dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa selalu terbuka. Surabaya hari ini tidak hanya merayakan usia kemerdekaannya yang ke-81, tetapi juga merayakan kemenangan atas ikhtiar merawat persatuan di tengah keberagaman.

Editor ” Abu fida // red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!