SUARARONGGOLAWE.COM SURABAYA // Pertemuan di kawasan Surabaya Selatan tampak riuh oleh diskusi hangat. Jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WIB ketika 12 pria berpenampilan tenang berkumpul mengelilingi meja oval. Sekilas, tidak ada yang aneh dari gestur mereka—ramah, saling melempar senyum, dan penuh semangat saat mendengarkan paparan materi. Namun, sejarah mencatat jalan hidup yang pernah mereka tempuh jauh dari kata damai.
Merekalah para mantan narapidana terorisme (eks napiter) yang kini tergabung dalam Komunitas Pejuang Damai (KPD) Surabaya. Di tempat ini, hingga kumandangan adzan Asar bergema, mereka tidak lagi bicara soal ideologi konfrontatif atau jejaring masa lalu, melainkan tentang business plan, keberlangsungan usaha mikro, dan pengisian instrumen evaluasi kemandirian ekonomi.
Di hadapan mereka berdiri Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Gonda, sosok akademisi yang konsisten mengawal alur reintegrasi sosial berbasis kesejahteraan.Kehadirannya siang ini membawa misi ganda: memfasilitasi bimbingan percepatan ekonomi sekaligus mengawal pemisian angket evaluasi dari UMM terkait efektivitas model pemandirian ekonomi bagi eks napiter.
Ekonomi Sebagai Buldoser Radikalisme
Acara dibuka dengan penyampaian keynote speech yang menyentuh akar persoalan. Dalam sambutannya, Prof. Gonda menegaskan bahwa narasi deradikalisasi tidak bisa lagi digantungkan semata pada dogma teologis atau pendekatan doktriner Kebutuhan paling riil yang dihadapi seorang eks napiter setelah menghirup udara bebas adalah pemenuhan isi piring dan keberlanjutan hidup keluarga.
Percepatan ekonomi adalah salah satu faktor kunci yang paling efektif dalam mengubah pola pikir seseorang dari lingkaran radikal menuju kehidupan yang normal dan produktif,” tegas Prof. Gonda di hadapan para peserta.
Menurut Prof. Gonda, ketika seseorang keluar dari kurungan penjara, kerentanan tertinggi untuk kembali terperosok ke jejaring lama timbul akibat isolasi sosial dan tekanan finansial. Ketika pintu-pintu kesempatan kerja formal tertutup akibat stigma masa lalu, jejaring kelompok radikal kerap hadir memberikan “uluran tangan” palsu. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas ekonomi bertindak sebagai benteng pertahanan utama agar mereka tidak kembali berpaling.
Mengukur Derajat Keberlanjutan Pembinaan
Setelah sesi pembekalan materi mengenai manajemen usaha kecil dan peluang pasar, agenda dilanjutkan dengan pengisian angket komprehensif yang dirancang oleh tim peneliti UMM. Angket ini bukan sekadar formulir data di atas kertas, melainkan instrumen ilmiah untuk mengukur sejauh mana model pembinaan berbasis ekonomi ini berdampak nyata terhadap kehidupan mereka.
Beberapa poin utama yang dipetakan dalam riset evaluatif UMM ini meliputi Tingkat Kemandirian Usaha Mengukur diversifikasi pendapatan dan keberlanjutan unit bisnis yang diampu oleh anggota KPD.
* Resiliensi Terhadap Stigma: Memetakan tingkat penerimaan masyarakat setempat seiring berjalannya kegiatan ekonomi eks napiter.
* Tingkat Efektivitas Pendampingan: Menilai relevansi program pelatihan dengan kebutuhan riil pasar di Jawa Timur.
Proses pengisian angket berlangsung interaktif. Ke-12 anggota KPD Surabaya tampak cermat membaca dan menjawab tiap poin pertanyaan.
Tidak jarang, Prof. Gonda turun langsung mendampingi dan berdiskusi singkat dengan peserta untuk memastikan substansi dari setiap indikator dapat dipahami dengan tepat.
Metamorfosis Komunitas Pejuang Damai (KPD) Surabaya Dua belas peserta yang hadir siang ini merupakan representasi dari proses transformasi yang panjang. KPD Surabaya telah lama menjadi wadah bagi para penyintas dan eks napiter untuk saling menguatkan, bertukar ide bisnis, serta mengikis sisa-sisa pemikiran ekstremis melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
Salah seorang perwakilan KPD Surabaya mengungkapkan bahwa program pendampingan dari UMM memberi mereka kacamata baru dalam memandang masa depan. Jika dulu energi mereka habis untuk ideologi destruktif, kini fokus utama mereka adalah bagaimana membangun jaringan distribusi produk, mengelola arus kas usaha, dan memberikan nafkah halal bagi anak-istri.
Harapan Baru Hingga Sayup Adzan Asar
Pertemuan intensif yang berlangsung selama tiga jam lebih ini akhirnya dipungkasi seiring berkumandangnya adzan Asar. Diskusi resmi berganti menjadi perbincangan santai sembari mengemas berkas angket yang telah terisi penuh.
Inisiatif yang dihadirkan oleh Prof. Gonda bersama UMM ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi antara dunia akademis dan aksi sosial di lapangan mampu melahirkan formulasi deradikalisasi yang membumi. Pembinaan tidak lagi berjarak, melainkan melebur dalam ikhtiar bersama mengangkat derajat ekonomi.
Langkah 12 pejuang damai di Surabaya siang ini menegaskan satu hal: ketika peluang ekonomi dibuka lebar dan pendampingan dilakukan secara humanis, jalan kembali menuju pelukan hangat Ibu Pertiwi bukanlah sekadar mimpi, melainkan kenyataan yang sedang diukir hari demi hari.(Fida // red)












