Daerah  

Sedekah Bumi – Nyadran Warga klompok Desa Kendung – Kedungadem.

admin
IMG 20230528 WA0037

SUARARONGGOLAWE.NET | Bojonegoro Pada hari Rabo kliwon, 24/05/2023 masyarakat dusun klompok Desa kendung Kec. Kedungadem Kab. Bojonegoro melaksanakan kegiatan  rutin setiap tahunnya yaitu  dalam rangka sedekah bumi (bersih desa). Masyarakat ikut berpartisipasi dalam rangka kegiatan syukuran tersebut pada siang hari rabu kliwon wayang kulit mengadakan acara syukuran di punden/keramat dusun klompok Desa kendung,Kedungadem- Bojonegoro.

Kegiatan  sedekah bumi itu dimulai dengan hajatan yang dihadiri, Bapak Kades ngak bisa datang di wakili bapak kasun klompok dan perangkat desa, RT, RW, Linmas dan tokoh  masyarakat, tokoh agama dan pada pagi hari Rabo tanggal  24 Mei 2023. Sedekah bumi – Bersih Desa pun dilaksanakan dengan pembagian hasil bumi yang sudah diolah maupun belum  diolah. Masyarakat Dusun klompok sangat antusiasi mengikuti acara  tersebut. Pada siang dan malam harinya dipertontonkan pertunjukan wayang kulit pimpinan bapak Ki. H. Sutrisno dari Desa Bronjong kec.bluluk,kab.lamongan. Dengan sinden/ledek dengan Nyi,desi wulan, Nyi,Ririn,nyi,supiani dan di bantu Adik Ayu masih di bangku sekolah SD bapak Ki.H.sutrisno selaku Dalang wayang kulit dari desa bronjong kec. bluluk kab. lamongan.

bapak Situr selaku panitia Acara malamnya tersebut dilangsungkan di rumah Bapak Kasun selaku dusun klompok Desa Kendung Kec. Kedungadem Kab. Bojonegoro Bapak Kasun dalam sambutannya mengatakan, “Sedekah  bumi ini merupakan suatu upacara adat yang melambangkan rasa syukur manusia  terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki melalui bumi  berupa segala bentuk hasil bumi,” terangnya, ungkap Situr

Untuk informasi upacara ini sebenarnya sangat populer  di Indonesia, khususnya di Jawa. Tradisi sedekah bumi mempunyai  makna yang lebih dari itu, upacara tradisional sedekah bumi itu sudah  menjadi salah satu bagian yang sudah menyatu dengan masyarakat yang tidak akan mampu untuk dipisahkan dari budaya jawa yang menyiratkan  symbol penjagaan terhadap kelestarian yang khas bagi masyarakat agraris maupun masyarakat khususnya yang ada di Jawa.
penulis.(Gik,red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!