FOTO PROTES WARGA DI KANTOR PERTAMINA 2022
Sinaralampos.net – Warga desa Kabupaten Tuban menjadi pusat perhatian dan viral di media sosial, pada bulan Februari 2021, . karena mayoritas warganya mendadak kaya ,setelah mendapatkan kompensasi dari pembangunan kilang Pertamina.
Sejumlah warga desa di Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Tuban, Jawa Timur mendapat ganti rugi dari penjualan tanah dan lahan untuk proyek pembangunan kilang minyak PT Pertamina pada bulan Februari 2021 Tahun Lalu . Mereka umumnya memborong membeli mobil dan kebutuhan mewah lainnya.
Hampir tiap kepala keluarga ketika itu sanggup membeli satu mobil, bahkan tiga mobil baru sekaligus. Namun, setelah satu tahun berlalu, beberapa warga jatuh miskin karena tidak ada lagi sumber penghasilan yang mereka bisa dapatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagaimana saat mereka bisa menggarap lahan pertaniannya.
fenomena munculnya warga kampung miliarder Tuban yang tiba-tiba menjadi jatuh miskin karena adanya fenomena culture shock atau gegar budaya yang tidak dapat dikelola dengan baik.
masyarakat tidak siap menghadapi proses perubahan yang terjadi dan sayangnya tidak ada pendampingan dari pemerintah atau perusahaan di dalam mengelola uang ganti rugi tersebut.
Dengan tidak adanya arah dari pemerintah terkait penggunaan dana kompensasi ganti rugi lahan, maka masyarakat akan menggunakan dana itu secara konsumtif, seperti beli mobil, rumah, dan sebagainya.
Selain itu, pemerintah maupun perusahaan dapat memberikan pendampingan manajemen keuangan dan membentuk mental masyarakat untuk berpikir jangka panjang.
Bahkan, kompensasi-kompensasi yang diberikan ke warga kampung miliarder di Tuban ini tidak sekedar uang, akan tetapi program-program alih profesi, memberikan pelatihan dan keterampilan masyarakat dapat dilakukan untuk itu.
Salah satu dari warga Tuban yaitu Bapak Musanam (60) tidak begitu semangat ketika diwawancarai awak media pada (26/1/2022), pagi. Dia sama sekali tidak mengira akan hidup sulit setelah menjual tanahnya.
Dia teringat kehidupan keluarganya sebelum datang kilang minyak. Musanam hidup tenteram bersama istri, dua anak, dan satu cucu. Mereka tinggal di atas lahan seluas 117 meter persegi.
Setelah datang rencana pembangunan kilang, Musanam akhirnya terbujuk untuk ikut menjual tanah seharga Rp500 juta. Sekarang dia menyesal telah menjual tanah dan pindah secara mandiri ke tempat baru karena menjadi pengangguran.
Untuk biaya makan keluarga, dia sesekali mengandalkan pendapatan dari anak menantu. Dia menjual satu per satu sapi di rumahnya. Dari enam ekor sapi, sekarang tersisa tiga ekor sapi. Dia sudah putus asa menunggu janji perusahaan akan mempekerjakan anak menantunya di kilang minyak
Musanam kemudian bergabung dengan paguyuban pemuda enam desa. Mereka unjuk rasa di kilang GRR Tuban untuk menagih janji pekerjaan.
“Harapan saya tinggal ini. Sapi terus menerus berkurang untuk makan sehari-hari,” katanya.
Mugi (60) juga bernasib sama dengan Musanam.
Dulu, dia menjual tanah seluas 2,4 hektare ke Pertamina seharga Rp2,5 miliar.
Sekarang ada perasaan menyesal karena sudah menjual lahan, Uang hasil penjualan tanah semakin lama semakin berkurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mugi teringat dulu ketika petugas sering mendatanginya untuk menjual tanah.
“Petugas sering datang ke kebun. Mengiming-imingi pekerjaan untuk anak-anak tapi hanya bohong sekarang,” kata dia.
“Hari ini belum ada keputusan karena harus dikoordinasikan dulu dengan pimpinan pusat,” kata dia
Pewarta ” Ipenk / Red / SAP
Editor ” Ipenk












